You reap what you’ve sown.
December 20th, 2007 by warriorwithinKau menuai apa yang kau taburkan.
Pepatah yang sangat familiar terdengar, terucap, maupun dituliskan, hingga
hampir-hampir kehilangan makna yang sesungguhnya. (Track running : Tokyo Jihen – Killer
Tune)
Sebenarnya prinsip ini sangat
sederhana. Kelewat sederhana malah. Dan saya kira prinsip ini merangkum hampir
seluruh rahasia di dalam hidup ini. Kau menuai apa yang kau taburkan pada
awalnya. Sangat eksplisit, dan begitu jelasnya.
Jika kau menaburkan kebaikan, maka
di depan, kau akan menuai kebaikan.
Jika kau menaburkan keburukan,
maka di depan, kau akan menuai keburukan.
Jika kau menaburkan pengertian,
maka di depan, kau akan menuai pengertian.
Jika kau menaburkan (track running
: Abingdon Boys School - Blade Chords)kekecewaan, maka di depan, kau akan menuai kekecewaan.
Jika kau menaburkan keramahan,
maka di depan, kau akan menuai keramahan.
Jika kau menaburkan kemarahan,
maka di depan, kau akan menuai kemarahan.
Dan seterusnya…
Mungkin selanjutnya yang mesti
diluruskan adalah sampai sebatas mana yang bisa disebut aktivitas menuai dan
menabur itu.
Jawabannya adalah hingga pada
tatanan pikiran, perasaan, dan REAKSI !
Jadi bukan hanya, tindakan saja,
namun juga kita menuai dan menabur hingga pada ranah pikiran, perasaan, dan
REAKSI. (Track running : Avenged Seven Fold – Critical Acclaim) Ini
sesungguhnya, membuka banyak rahasia yang selama ini menjadi pertanyaan, yang
saat ini malah terkubur dalam-dalam karena kebiasaan dalam ke-common-an orang-orang, yang malas untuk
berpikir dan menelaah lebih dalam.
Pernah terpikir seperti ini :
“Kenapa ya, hidup saya gini-gini
melulu ?”
“Kenapa saya selalu mengalami hal
yang sama berulang-ulang ? (Mending yang menyenangkan, ini malah yang ngga
ngenakkin !)”
“Kenapa sih, dia (pacar, suami,
istri, anak-anak, teman, atau orang lain selain diri kita) ngga pernah berubah
? Padahal saya udah ngomong berkali-kali !”
Well, jawaban (track running :
DragonForce – Cry Of The Brave) yang paling singkat dan mencerahkan itu
selalulah sama. Anda menuai apa yang anda taburkan. Karena itu, saran yang
paling aplikatif adalah mulai bertanya pada diri kita sendiri. Kita bisa cukup
bertanya pada diri kita seperti ini :
“Okay, dalam situasi seperti ini,
apa yang biasa saya lakukan ?”
Lebih jauh lagi (dan ini sangat
disarankan), kita seharusnya bertanya seperti ini :
“Dalam situasi ini, APA YANG BIASA
SAYA RASAKAN, PIKIRKAN, DAN BAGAIMANA SAYA BEREAKSI TERHADAP SITUASI INI ?”
Asumsi saya adalah kita menabur
dan menuai hingga kepada ranah pikiran, perasaan, dan reaksi, maka sekecil
apapun perasaan yang ada, seremeh apapun pikiran yang terlintas, atau sesepele
apapun reaksi yang terlontar, MAKA, sekali lagi MAKA, di masa yang akan datang
(entah, sejam lagi, besok, lusa, atau 10 tahun lagi), apa yang terasa,
terlintas, dan terlontar itu akan datang kembali.
Mark my words : APA YANG TERASA,
TERLINTAS, DAN TERLONTAR ITU AKAN DATANG KEMBALI DI KEMUDIAN HARI.
You reap what you’ve sown. Kau
menuai apa yang kau taburkan.
Kalau kita bertanya, “Kenapa sih
hidup saya gitu-gitu aja ?” atau “Kenapa sih saya selalu mengalami hal yang
sama (yang dalam hal ini adalah kemalangan dan ketidak-bahagiaan)
berulang-ulang ?”
Sederhananya, itu karena kita
melakukan hal yang sama berulang-ulang. Kita senantiasa merasakan PERASAAN yang
SAMA, BERPIKIR dengan pola pikir dan cara yang SAMA (track running :
D’Cinnamons – Selamanya Cinta), dan BEREAKSI dengan reaksi yang SAMA.
Apabila ada pertanyaan, “Kenapa
sih dia ngga pernah bisa berubah, padahal udah jutaan kali saya bilangin ???”
(Track running : Once – Aku Cinta Kau Apa Adanya) I’d like to say it in every
of your face, that is, karena, Anda senantiasa bereaksi dengan cara yang sama,
Anda mengatakan hal yang sama, Anda merasakan hal yang sama, dan Anda berpikir
dengan cara yang sama, yang mana—akuilah—adalah kebanyakan merupakan perasaan,
pikiran, dan reaksi yang NEGATIF (Iyalah negatif, karena kalau engga, mana
mungkin Anda mengeluh ? Bukankah keluhan juga merupakan sesuatu yang
negatif—sesuatu yang tidak menyenangkan—bukan ?)
(Track running : DJ Tiesto –
Traffic)
Contoh kasus antara orang tua dan
anaknya. Ini bahkan saya alami sendiri lho. Jadi seperti ini, sedari kecil
(hingga kemarin, semoga hari ini dan seterusnya tidak, amin) saya ingat saya
selalu dikatai seperti ini apabila saya melakukan suatu ketelodoran, kecerobohan,
maupun kesalahan-kesalahan :
“Kamu tuh, ngga pernah bisa
ngelakuin sesuatu dengan bener yah !” (Track running : TM Revolution –
Crosswise) atau “Ngelakuin apa juga kamu mah salaaah melulu !” atau “Kamu tuh
ngga pernah ya dengerin orang ngomong ?? Masa salah lagi salah lagi sih ???”
atau “Kamu tuh emang orangnya teledor, ceroboh !” atau “Ah, dasar pelupa kamu
!!” atau banyak cap-cap lainnya, yang Insya Allah, bukan cap yang bagus nan
membanggakan.
Pada awalnya, mungkin kita semua
bisa menyimpulkan kalau saya ini orang yang memang ceroboh dan teledor. Yeah,
semua common sense di masyarakat
barangkali menganggapnya demikian. Tapi sekali saja, pernahkah kita berpikir
dan memandang segalanya dari sudut pandang sang anak, yang dalam hal ini saya ?
Saya berani bersumpah, ketika di
marahi seperti itu saya tersadar, dan bertekad (track running : Abingdon Boys School - Innocent Sorrow) untuk tidak mengulanginya lagi, karena saya tidak mau
dimarahi lagi, karena dimarahi itu sangat menyakitkan bagi saya. Namun, taukah
Anda, ketelodoran dan kecerobohan itu senantiasa berulang, DAN SAYA SAMA SEKALI
TIDAK MENGINGINKANNYA. Saya sendiri bingung dan aneh, saya melakukan itu
seperti di bawah sadar saya. It just happen, beyond my grasp of control, and
guess what guys ? Kata-kata dan cap-cap di atas itu kembali berdatangan (track
running : Kanye West - Stronger).
Saya baru tersadar hari ini.
Kata-kata, cap-cap, dan reaksi-reaksi negatif itu telah ratusan kali datang
pada saya, diiringi dengan keteledoran dan kecerobohan saya yang juga ratusan
kali kerap saya lakukan.
Seperti lingkaran setan yang tak
pernah putus, ya ?
Dan malangnya, yang kerap
disalahkan adalah yang melakukan. Yang senantiasa disalahkan dan di-judge adalah yang teledor dan ceroboh.
Yang selalu dimarahi adalah saya dalam hal ini. (Track running – Timbaland feat
Kerry Hills & D.O.E – The Way I Are) Sedangkan ada prinsip seperti ini :
“You can’t change anything,
anyone, other than yourself !”
Demi Tuhan, saya percaya sepenuh
hati saya, bahwa kita ngga punya kuasa untuk ngerubah orang lain atau pun
keadaan di luar diri kita, hingga kita sendiri dulu yang berubah.
Menilik dari contoh kasus di atas,
maka pertanyaannya adalah, mana yang mesti lebih dulu diubah ? (Track running :
Maroon 5 – Makes Me Wonder) Jika Anda melihat kembali dan dengan baik memahami
apa yang saya tulis di atas, maka Anda pasti tau jawabannya.
Untuk bagian ini saya ingin
berteriak sekerasnya kalau bisa :
“STOP JUDGING YOUR LOVER, YOUR
CHILDREN, YOUR FRIEND AND OTHER PEOPLE AROUND YOU. STOP THINKING, FEELING,
REACTING (track running : Our Lady Peace - Life), AND SAYING NEGATIVELY TOWARD
AND ABOUT THEM, BECAUSE, FOR GOD SAKE, IT WON’T CHANGE A THING, AND WORSE, IT
WILL KEEP HAPPENING AND HAPPENING UNTIL YOU DIE, ALONG YOUR OWN F**KIN’
IGNORANCE !!!!!”
Nah, bahkan saya pun saking
emosionalnya jadi malah nge-judge
nih. Hahaha. (Track running : 2 Unlimited – Get Ready For This)
Intinya sebetulnya sangat
sederhana, yakni :
Jangan berharap hidup kita akan
berubah, selama apa yang kita lakukan itu selalu sama.
Jangan berharap hidup kita,
hal-hal yang terjadi pada kita, dan bahkan orang-orang sekitar kita akan
berubah (track running : Avenged Seven Fold - Sidewinder), SELAMA, reaksi,
pikiran, perasaan kita terhadap hidup kita, terhadap hal-hal yang terjadi pada
kita, dan terhadap orang-orang sekitar kita, adalah SAMA SAJA.
Mana bisa kita memperoleh sesuatu
yang berbeda, apabila yang kita lakukan selama ini sama saja dari waktu ke
waktu.
Nah, sekarang adalah solusinya.
Yang juga amit-amit sederhananya. (Track running : Blindspott – Nil By Mouth)
Satu-satunya cara adalah BERUBAH ! Keluar dari lingkaran setan itu dengan
berubah ! Ubah pikiran Anda, perasaan Anda, dan reaksi Anda !
Nah untuk mengawalinya (track
running : Chris Daughtry - Home), kita bisa mulai dengan merubah reaksi kita.
Apabila selama ini kita bereaksi secara otomatis, maka cobalah untuk diam
sejenak dan berpikir. YA, BERPIKIR.
Contoh konkritnya, apabila Anda
sedang berkendara entah mobil ataupun sepeda motor dan ada orang lain yang
menyalip Anda atau melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan Anda, maka, instead Anda melakukan hal yang selama
ini selalu Anda lakukan (berteriak, mengumpat, mengklakson dengan ganasnya
disertai dengan muka stelan bengis), Anda bisa DIAM SAJA. Tidak bereaksi. Cukup
diam. (Track running : Evanescence – Call Me When You’re Sober)
Kemudian rasakan gejolak pikiran
dan perasaan Anda. Barangkali setiap sudut dari pikiran dan perasaan Anda (yang
sebagian besar diwakili oleh ego atau hawa nafsu Anda). (Track running : Servis
Elektrik – 80) Mereka semua akan berteriak pada Anda kalau Anda seharusnya
tidak diam saja, Anda seharusnya melawan dengan cara yang biasa Anda lakukan
(walaupun hampir tidak ada pengaruh positifnya bagi Anda, kecuali kepuasan semu
yang akan membuat ego Anda tertawa terbahak-bahak). Singkatnya suara-suara itu
akan terus menghajar Anda dengan berbagai pembenaran-pembenaran, dan membuat
Anda merasa tidak seperti diri Anda sendiri apabila Anda tidak mengikuti apa
yang suara-suara itu katakan pada Anda.
(Track running : Servis Elektrik –
Atari Virtual Reality) Sodara-sodara, mungkin inilah yang disebut oleh
Rasulullah SAW sebagai peperangan terbesar yang senantiasa berlangsung seumur
hidup, yakni melawan hawa nafsu atau ego. Di sinilah peperangan kita melawan
ego dan hawa nafsu, yang bahkan pada hal yang sepele sekalipun.
Dan karena di setiap peperangan
selalu ada yang kalah dan menang. Maka pihak yang berseteru selalulah antara
kita dan hawa nafsu atau ego kita.
Sederhananya, apabila Anda selama
ini memperoleh hal yang tidak menyenangkan terus menerus dan mulai bertanya
kenapa, maka artinya, selama ini ego atau hawa nafsu Anda selalu berhasil
menendang pantat Anda. Dan sedihnya lagi, Anda bahkan tak tahu kalau Anda
sedang dizalimi oleh ego Anda. Anda bahkan tidak sadar kalau hawa nafsu Anda
sedang menendang pantat Anda begitu keras, hingga Anda menganggapnya itu
sebagai hal yang biasa, dan tersamar dibalik kata, “Oh, ya, gua emang gini
orangnya, terus mau gimana lagi dong ?” Dan ketika itu, ego atau hawa nafsu
Anda berpesta pora merayakan keberhasilannya melahap keberadaan sejati dari
diri Anda yang sesungguhnya.
(Track running : Safri Duo – Samb
Adagio)
Peperangan itu tidak pernah
dimulai, karena kita senantiasa lebih dulu menyerah dan kalah. Sangat
menyedihkan !
(Track running : Safri Duo – Ritmo
De La Roche)
Nah, sebelum saya melebar
kemana-mana lagi, mari kita kembali.
Saya tadi bilang, bahwa kita harus
mulai berpikir terhadap reaksi-reaksi yang selama ini senantiasa terlontar. Mulailah
berpikir, “Kenapa saya bereaksi seperti ini ?” dan lanjutkan dengan “Apa
untungnya buat saya ?” (Track running : Safri Duo - Everything) Biasanya reaksi
negatif tidak akan membawa keuntungan bagi Anda selain hal-hal negatif lainnya
yang akan datang ke hadapan Anda di kemudian hari. Karena itu, ubah lah reaksi
Anda !
Kalau selama ini Anda suka memaki,
maka gantilah makian Anda dengan doa. Bisa ? Bisa, selama Anda mau. Karena itu
cuma mengganti kata-kata saja. Meski semua pikiran dan perasaan Anda itu
menolak sekuat-kuatnya, Anda tetap saja yang memiliki power untuk menentukan
kata-kata Anda. Meski Anda harus menggigit bibir dan lidah Anda ketika
mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan pikiran dan perasaan Anda, tapi
Anda selalu bisa mengatakannya. (Track running : Safri Duo – Played Alive).
Mulailah peperangan ini dari
hal-hal yang kecil. Karena ketika Anda berhasil, dan mulai membiasakan diri
(ingat Anda akan merasa sangat tidak enak !) untuk keluar dari kebiasaan
bereaksi dan berkata-kata yang negatif, maka selamat ! Anda sudah berhasil
memenangi satu peperangan melawan ego dan hawa nafsu Anda, yang kemudian akan
membawa Anda kepada sebuah ketakjuban nan dahsyat akan kemuliaan dan kehebatan
diri Anda yang sesunguhnya !
As for those yang suka mencap
orang-orang dengan cap-cap jelek, yang berargumen, “Emang dia mah orangnya kaya
gitu ! Ngga salah dong gua !?”
Emang ngga salah, karena common sense-nya seperti itu. Tapi
apakah kita benar-benar yakin kalo common
sense itu memang sesuatu yang benar ? Saya berani bilang TIDAK ! TIDAK
TIDAK TIDAK ! Banyak yang keliru ! Karena kalo iya, seharusnya banyak orang
yang bahagia, tersenyum, dan senantiasa damai. Kenyataannya ? Anda lihat
sendiri lah. Lebih banyak orang yang seneng atau susah di dunia ini ?
Kembali, as for those yang suka
mencap orang-orang dengan cap-cap jelek, saya benar-benar menyarankan Anda
untuk mulai mengganti cap-cap itu sekarang juga. Mulai dengan mengganti
kata-kata yang selama ini biasa Anda lontarkan. Hindari kata-kata negatif. Gantilah
dengan kata-kata positif yang encouraging.
Contohnya :
”Lain kali, hati-hati ya, saya percaya kamu akan lebih telaten ke depannya.”
Sederhana. Hanya mengganti
kata-kata yang biasa Anda katakan, dengan kata-kata yang lebih positif. Lihat
sendiri hasilnya. Lihat hasilnya pada diri Anda sendiri, dan pada orang lain.
Coba biasakan ini sebulan saja secara rutin, hingga seluruh reaksi, pikiran,
dan perasaan Anda menjadi sepenuhnya terbiasa. Ketika itu semua sudah Anda
alami, rasakanlah sendiri perubahan yang maha dahsyat ini.
You reap what you’ve sown. Anda
menuai apa yang Anda taburkan. Tidak pernah pepatah ini menjadi lebih jelas
dari sekarang ini.