You reap what you’ve sown.

December 20th, 2007 by warriorwithin

Kau menuai apa yang kau taburkan.
Pepatah yang sangat familiar terdengar, terucap, maupun dituliskan, hingga
hampir-hampir kehilangan makna yang sesungguhnya. (Track running : Tokyo Jihen – Killer
Tune)

 

Sebenarnya prinsip ini sangat
sederhana. Kelewat sederhana malah. Dan saya kira prinsip ini merangkum hampir
seluruh rahasia di dalam hidup ini. Kau menuai apa yang kau taburkan pada
awalnya. Sangat eksplisit, dan begitu jelasnya.

 

Jika kau menaburkan kebaikan, maka
di depan, kau akan menuai kebaikan.

Jika kau menaburkan keburukan,
maka di depan, kau akan menuai keburukan.

Jika kau menaburkan pengertian,
maka di depan, kau akan menuai pengertian.

Jika kau menaburkan (track running
: Abingdon Boys School - Blade Chords)kekecewaan, maka di depan, kau akan menuai kekecewaan.

Jika kau menaburkan keramahan,
maka di depan, kau akan menuai keramahan.

Jika kau menaburkan kemarahan,
maka di depan, kau akan menuai kemarahan.

Dan seterusnya…

 

Mungkin selanjutnya yang mesti
diluruskan adalah sampai sebatas mana yang bisa disebut aktivitas menuai dan
menabur itu.

 

Jawabannya adalah hingga pada
tatanan pikiran, perasaan, dan REAKSI !

 

Jadi bukan hanya, tindakan saja,
namun juga kita menuai dan menabur hingga pada ranah pikiran, perasaan, dan
REAKSI. (Track running : Avenged Seven Fold – Critical Acclaim) Ini
sesungguhnya, membuka banyak rahasia yang selama ini menjadi pertanyaan, yang
saat ini malah terkubur dalam-dalam karena kebiasaan dalam ke-common­-an orang-orang, yang malas untuk
berpikir dan menelaah lebih dalam.

 

Pernah terpikir seperti ini :

 

“Kenapa ya, hidup saya gini-gini
melulu ?”

“Kenapa saya selalu mengalami hal
yang sama berulang-ulang ? (Mending yang menyenangkan, ini malah yang ngga
ngenakkin !)”

“Kenapa sih, dia (pacar, suami,
istri, anak-anak, teman, atau orang lain selain diri kita) ngga pernah berubah
? Padahal saya udah ngomong berkali-kali !”

 

Well, jawaban (track running :
DragonForce – Cry Of The Brave) yang paling singkat dan mencerahkan itu
selalulah sama. Anda menuai apa yang anda taburkan. Karena itu, saran yang
paling aplikatif adalah mulai bertanya pada diri kita sendiri. Kita bisa cukup
bertanya pada diri kita seperti ini :

 

“Okay, dalam situasi seperti ini,
apa yang biasa saya lakukan ?”

 

Lebih jauh lagi (dan ini sangat
disarankan), kita seharusnya bertanya seperti ini :

 

“Dalam situasi ini, APA YANG BIASA
SAYA RASAKAN, PIKIRKAN, DAN BAGAIMANA SAYA BEREAKSI TERHADAP SITUASI INI ?”

 

Asumsi saya adalah kita menabur
dan menuai hingga kepada ranah pikiran, perasaan, dan reaksi, maka sekecil
apapun perasaan yang ada, seremeh apapun pikiran yang terlintas, atau sesepele
apapun reaksi yang terlontar, MAKA, sekali lagi MAKA, di masa yang akan datang
(entah, sejam lagi, besok, lusa, atau 10 tahun lagi), apa yang terasa,
terlintas, dan terlontar itu akan datang kembali.

 

Mark my words : APA YANG TERASA,
TERLINTAS, DAN TERLONTAR ITU AKAN DATANG KEMBALI DI KEMUDIAN HARI.

You reap what you’ve sown. Kau
menuai apa yang kau taburkan.

 

Kalau kita bertanya, “Kenapa sih
hidup saya gitu-gitu aja ?” atau “Kenapa sih saya selalu mengalami hal yang
sama (yang dalam hal ini adalah kemalangan dan ketidak-bahagiaan)
berulang-ulang ?”

Sederhananya, itu karena kita
melakukan hal yang sama berulang-ulang. Kita senantiasa merasakan PERASAAN yang
SAMA, BERPIKIR dengan pola pikir dan cara yang SAMA (track running :
D’Cinnamons – Selamanya Cinta), dan BEREAKSI dengan reaksi yang SAMA.

 

Apabila ada pertanyaan, “Kenapa
sih dia ngga pernah bisa berubah, padahal udah jutaan kali saya bilangin ???”
(Track running : Once – Aku Cinta Kau Apa Adanya) I’d like to say it in every
of your face, that is, karena, Anda senantiasa bereaksi dengan cara yang sama,
Anda mengatakan hal yang sama, Anda merasakan hal yang sama, dan Anda berpikir
dengan cara yang sama, yang mana—akuilah—adalah kebanyakan merupakan perasaan,
pikiran, dan reaksi yang NEGATIF (Iyalah negatif, karena kalau engga, mana
mungkin Anda mengeluh ? Bukankah keluhan juga merupakan sesuatu yang
negatif—sesuatu yang tidak menyenangkan—bukan ?)

 

(Track running : DJ Tiesto –
Traffic)

 

Contoh kasus antara orang tua dan
anaknya. Ini bahkan saya alami sendiri lho. Jadi seperti ini, sedari kecil
(hingga kemarin, semoga hari ini dan seterusnya tidak, amin) saya ingat saya
selalu dikatai seperti ini apabila saya melakukan suatu ketelodoran, kecerobohan,
maupun kesalahan-kesalahan :

“Kamu tuh, ngga pernah bisa
ngelakuin sesuatu dengan bener yah !” (Track running : TM Revolution –
Crosswise) atau “Ngelakuin apa juga kamu mah salaaah melulu !” atau “Kamu tuh
ngga pernah ya dengerin orang ngomong ?? Masa salah lagi salah lagi sih ???”
atau “Kamu tuh emang orangnya teledor, ceroboh !” atau “Ah, dasar pelupa kamu
!!” atau banyak cap-cap lainnya, yang Insya Allah, bukan cap yang bagus nan
membanggakan.

 

Pada awalnya, mungkin kita semua
bisa menyimpulkan kalau saya ini orang yang memang ceroboh dan teledor. Yeah,
semua common sense di masyarakat
barangkali menganggapnya demikian. Tapi sekali saja, pernahkah kita berpikir
dan memandang segalanya dari sudut pandang sang anak, yang dalam hal ini saya ?

 

Saya berani bersumpah, ketika di
marahi seperti itu saya tersadar, dan bertekad (track running : Abingdon Boys School - Innocent Sorrow) untuk tidak mengulanginya lagi, karena saya tidak mau
dimarahi lagi, karena dimarahi itu sangat menyakitkan bagi saya. Namun, taukah
Anda, ketelodoran dan kecerobohan itu senantiasa berulang, DAN SAYA SAMA SEKALI
TIDAK MENGINGINKANNYA. Saya sendiri bingung dan aneh, saya melakukan itu
seperti di bawah sadar saya. It just happen, beyond my grasp of control, and
guess what guys ? Kata-kata dan cap-cap di atas itu kembali berdatangan (track
running : Kanye West - Stronger).

 

Saya baru tersadar hari ini.
Kata-kata, cap-cap, dan reaksi-reaksi negatif itu telah ratusan kali datang
pada saya, diiringi dengan keteledoran dan kecerobohan saya yang juga ratusan
kali kerap saya lakukan.

 

Seperti lingkaran setan yang tak
pernah putus, ya ?

 

Dan malangnya, yang kerap
disalahkan adalah yang melakukan. Yang senantiasa disalahkan dan di-judge adalah yang teledor dan ceroboh.
Yang selalu dimarahi adalah saya dalam hal ini. (Track running – Timbaland feat
Kerry Hills & D.O.E – The Way I Are) Sedangkan ada prinsip seperti ini :

 

“You can’t change anything,
anyone, other than yourself !”

 

Demi Tuhan, saya percaya sepenuh
hati saya, bahwa kita ngga punya kuasa untuk ngerubah orang lain atau pun
keadaan di luar diri kita, hingga kita sendiri dulu yang berubah.

 

Menilik dari contoh kasus di atas,
maka pertanyaannya adalah, mana yang mesti lebih dulu diubah ? (Track running :
Maroon 5 – Makes Me Wonder) Jika Anda melihat kembali dan dengan baik memahami
apa yang saya tulis di atas, maka Anda pasti tau jawabannya.

 

Untuk bagian ini saya ingin
berteriak sekerasnya kalau bisa :

 

“STOP JUDGING YOUR LOVER, YOUR
CHILDREN, YOUR FRIEND AND OTHER PEOPLE AROUND YOU. STOP THINKING, FEELING,
REACTING (track running : Our Lady Peace - Life), AND SAYING NEGATIVELY TOWARD
AND ABOUT THEM, BECAUSE, FOR GOD SAKE, IT WON’T CHANGE A THING, AND WORSE, IT
WILL KEEP HAPPENING AND HAPPENING UNTIL YOU DIE, ALONG YOUR OWN F**KIN’
IGNORANCE !!!!!”

 

Nah, bahkan saya pun saking
emosionalnya jadi malah nge-judge
nih. Hahaha. (Track running : 2 Unlimited – Get Ready For This)

 

Intinya sebetulnya sangat
sederhana, yakni :

 

Jangan berharap hidup kita akan
berubah, selama apa yang kita lakukan itu selalu sama.

 

Jangan berharap hidup kita,
hal-hal yang terjadi pada kita, dan bahkan orang-orang sekitar kita akan
berubah (track running : Avenged Seven Fold - Sidewinder), SELAMA, reaksi,
pikiran, perasaan kita terhadap hidup kita, terhadap hal-hal yang terjadi pada
kita, dan terhadap orang-orang sekitar kita, adalah SAMA SAJA.

 

Mana bisa kita memperoleh sesuatu
yang berbeda, apabila yang kita lakukan selama ini sama saja dari waktu ke
waktu.

 

Nah, sekarang adalah solusinya.
Yang juga amit-amit sederhananya. (Track running : Blindspott – Nil By Mouth)
Satu-satunya cara adalah BERUBAH ! Keluar dari lingkaran setan itu dengan
berubah ! Ubah pikiran Anda, perasaan Anda, dan reaksi Anda !

 

Nah untuk mengawalinya (track
running : Chris Daughtry - Home), kita bisa mulai dengan merubah reaksi kita.
Apabila selama ini kita bereaksi secara otomatis, maka cobalah untuk diam
sejenak dan berpikir. YA, BERPIKIR.

 

Contoh konkritnya, apabila Anda
sedang berkendara entah mobil ataupun sepeda motor dan ada orang lain yang
menyalip Anda atau melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan Anda, maka, instead Anda melakukan hal yang selama
ini selalu Anda lakukan (berteriak, mengumpat, mengklakson dengan ganasnya
disertai dengan muka stelan bengis), Anda bisa DIAM SAJA. Tidak bereaksi. Cukup
diam. (Track running : Evanescence – Call Me When You’re Sober)

 

Kemudian rasakan gejolak pikiran
dan perasaan Anda. Barangkali setiap sudut dari pikiran dan perasaan Anda (yang
sebagian besar diwakili oleh ego atau hawa nafsu Anda). (Track running : Servis
Elektrik – 80) Mereka semua akan berteriak pada Anda kalau Anda seharusnya
tidak diam saja, Anda seharusnya melawan dengan cara yang biasa Anda lakukan
(walaupun hampir tidak ada pengaruh positifnya bagi Anda, kecuali kepuasan semu
yang akan membuat ego Anda tertawa terbahak-bahak). Singkatnya suara-suara itu
akan terus menghajar Anda dengan berbagai pembenaran-pembenaran, dan membuat
Anda merasa tidak seperti diri Anda sendiri apabila Anda tidak mengikuti apa
yang suara-suara itu katakan pada Anda.

 

(Track running : Servis Elektrik –
Atari Virtual Reality) Sodara-sodara, mungkin inilah yang disebut oleh
Rasulullah SAW sebagai peperangan terbesar yang senantiasa berlangsung seumur
hidup, yakni melawan hawa nafsu atau ego. Di sinilah peperangan kita melawan
ego dan hawa nafsu, yang bahkan pada hal yang sepele sekalipun.

 

Dan karena di setiap peperangan
selalu ada yang kalah dan menang. Maka pihak yang berseteru selalulah antara
kita dan hawa nafsu atau ego kita.

 

Sederhananya, apabila Anda selama
ini memperoleh hal yang tidak menyenangkan terus menerus dan mulai bertanya
kenapa, maka artinya, selama ini ego atau hawa nafsu Anda selalu berhasil
menendang pantat Anda. Dan sedihnya lagi, Anda bahkan tak tahu kalau Anda
sedang dizalimi oleh ego Anda. Anda bahkan tidak sadar kalau hawa nafsu Anda
sedang menendang pantat Anda begitu keras, hingga Anda menganggapnya itu
sebagai hal yang biasa, dan tersamar dibalik kata, “Oh, ya, gua emang gini
orangnya, terus mau gimana lagi dong ?” Dan ketika itu, ego atau hawa nafsu
Anda berpesta pora merayakan keberhasilannya melahap keberadaan sejati dari
diri Anda yang sesungguhnya.

 

(Track running : Safri Duo – Samb
Adagio)

 

Peperangan itu tidak pernah
dimulai, karena kita senantiasa lebih dulu menyerah dan kalah. Sangat
menyedihkan !

 

(Track running : Safri Duo – Ritmo
De La Roche)

 

Nah, sebelum saya melebar
kemana-mana lagi, mari kita kembali.

 

Saya tadi bilang, bahwa kita harus
mulai berpikir terhadap reaksi-reaksi yang selama ini senantiasa terlontar. Mulailah
berpikir, “Kenapa saya bereaksi seperti ini ?” dan lanjutkan dengan “Apa
untungnya buat saya ?” (Track running : Safri Duo - Everything) Biasanya reaksi
negatif tidak akan membawa keuntungan bagi Anda selain hal-hal negatif lainnya
yang akan datang ke hadapan Anda di kemudian hari. Karena itu, ubah lah reaksi
Anda !

 

Kalau selama ini Anda suka memaki,
maka gantilah makian Anda dengan doa. Bisa ? Bisa, selama Anda mau. Karena itu
cuma mengganti kata-kata saja. Meski semua pikiran dan perasaan Anda itu
menolak sekuat-kuatnya, Anda tetap saja yang memiliki power untuk menentukan
kata-kata Anda. Meski Anda harus menggigit bibir dan lidah Anda ketika
mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan pikiran dan perasaan Anda, tapi
Anda selalu bisa mengatakannya. (Track running : Safri Duo – Played Alive).

 

Mulailah peperangan ini dari
hal-hal yang kecil. Karena ketika Anda berhasil, dan mulai membiasakan diri
(ingat Anda akan merasa sangat tidak enak !) untuk keluar dari kebiasaan
bereaksi dan berkata-kata yang negatif, maka selamat ! Anda sudah berhasil
memenangi satu peperangan melawan ego dan hawa nafsu Anda, yang kemudian akan
membawa Anda kepada sebuah ketakjuban nan dahsyat akan kemuliaan dan kehebatan
diri Anda yang sesunguhnya !

 

As for those yang suka mencap
orang-orang dengan cap-cap jelek, yang berargumen, “Emang dia mah orangnya kaya
gitu ! Ngga salah dong gua !?”

 

Emang ngga salah, karena common sense-nya seperti itu. Tapi
apakah kita benar-benar yakin kalo common
sense
itu memang sesuatu yang benar ? Saya berani bilang TIDAK ! TIDAK
TIDAK TIDAK ! Banyak yang keliru ! Karena kalo iya, seharusnya banyak orang
yang bahagia, tersenyum, dan senantiasa damai. Kenyataannya ? Anda lihat
sendiri lah. Lebih banyak orang yang seneng atau susah di dunia ini ?

 

Kembali, as for those yang suka
mencap orang-orang dengan cap-cap jelek, saya benar-benar menyarankan Anda
untuk mulai mengganti cap-cap itu sekarang juga. Mulai dengan mengganti
kata-kata yang selama ini biasa Anda lontarkan. Hindari kata-kata negatif. Gantilah
dengan kata-kata positif yang encouraging.

 

Contohnya :


”Lain kali, hati-hati ya, saya percaya kamu akan lebih telaten ke depannya.”

 

Sederhana. Hanya mengganti
kata-kata yang biasa Anda katakan, dengan kata-kata yang lebih positif. Lihat
sendiri hasilnya. Lihat hasilnya pada diri Anda sendiri, dan pada orang lain.
Coba biasakan ini sebulan saja secara rutin, hingga seluruh reaksi, pikiran,
dan perasaan Anda menjadi sepenuhnya terbiasa. Ketika itu semua sudah Anda
alami, rasakanlah sendiri perubahan yang maha dahsyat ini.

 

You reap what you’ve sown. Anda
menuai apa yang Anda taburkan. Tidak pernah pepatah ini menjadi lebih jelas
dari sekarang ini.

Mind Journey

October 19th, 2006 by warriorwithin

Its so high.

Everybody.

Anyone.

Tapi tetaplah di sana.

Jangan turun menjemputku.

Biar aku yang menyusul ke sana.

Me.

With my own strength.

My own blood.

My own path.

My own fate and destiny.

Today i make my vow.

Aku akan menyusul ke sana.

Karena aku bisa melihat masa depan yang sangat-sangat cerah.

Di mana di sana ada aku, kamu, kalian, dan kita semua.

Eternally happy. Eternally grateful.

In 2-5 years later.

Aku percaya.

Menatap Semesta

August 29th, 2006 by warriorwithin

Aku kaget

Aku kaget betapa semuanya berada dalam orkestra alam semesta

Aku kaget betapa semuanya berjalan lebih indah dari biasanya

Aku kaget betapa segalanya telah ditulis oleh Tangan Yang Sama

Pertemuan itu

Tatapan mata itu

Pertemuan ini

Inspirasi itu

Pertemuan kemarin

Ketakjubannya yang mendekap

Kali ini

Tirai lainnya telah tersibak

Aku bersyukur

AKu terheran

Aku terkagum

Aku terpesona

Aku terrengkuh

Aku… Kaget

Aku… Berserah diri

Reality Of Reality

August 17th, 2006 by warriorwithin

Tulisan ini adalah hasil dari inspirasi yang membuncah setelah membaca The Book of Secrets karya Deepak Chopra.

Realitas dari sebuah realitas. Atau kenyataan akan sebuah kenyataan. Pertanyaannya adalah, seberapa yakin kita berpikir bahwa dunia di sekeliling kita adalah "nyata" dan benar-benar berada "di luar" diri kita ?

Dengan yakin, Chopra berulang-ulang mengatakan bahwa dunia TIDAk berada di luar, tapi berada DIDALAM diri seseorang.

Dunia adalah persepsi. Persepsi adalah dunia. Begitulah tulisnya.

Terus terang, saya sangat menyetujui tulisan Chopra ini.

Anda masih belum yakin ?

Izinkan saya untuk mencoba meyakinkan Anda.

Sekarang, ketika Anda membaca tulisan saya ini, Anda pasti sedang menggunakan komputer, karena itu, saya minta Anda untuk mengangkat mouse yang sedari tadi Anda gunakan ke hadapan muka Anda. Genggamlah mouse itu dengan kedua tangan Anda, pusatkan perhatian Anda sepenuhnya terhadap apa yang sedang berada dihadapan Anda sekarang.

Sebuah mouse.

Katakan kepada diri Anda sendiri, "saya bisa melihat mouse ini" Silahkan Anda teliti dengan baik mouse itu. Bentuknya. Warnanya. Desainnya. Semuanya.

Kemudian, katakan kepada diri Anda sendiri, "saya bisa merasakan mouse ini".

Silahkan Anda konsentrasikan pikiran Anda kepada indera peraba Anda, dengan betul-betul merasakan tekstur mouse itu. Apakah mouse itu besar atau justru kecil di kedua belah tangan Anda. Apakah mouse itu terasa halus atau kasar. Apakah mouse itu terasa dingin, hangat, atau panas di kedua telapak tangan Anda. Semuanya.

Taruhlah kembali mouse itu, dan kembalilah membaca tulisan ini.

Semua aktivitas yang tadi Anda lakukan, adalah sebuah aktivitas untuk mempertegas "kenyataan" dari sebuah mouse. Anda akan berkata bahwa mouse itu memang nyata.

Anda bisa melihatnya dengan jelas. Anda bisa merasakan bentuk dan tekstur di kedua tangan Anda. Anda akan percaya bahwa mouse itu memang ada dan betul-betul riil.

Biar saya katakan sesuatu kepada Anda. Semua yang ada rasakan dari mouse tersebut hanyalah sebuah "sensasi" yang muncul di dalam otak Anda. "Sensasi" ini tercipta melalui saluran inderawi yang Anda miliki. Sensasi-sensasi ini terkumpul sebagai hasil analisa indera penglihatan dan indera peraba Anda, yang pada akhirnya otak Anda menciptakan sebuah kesimpulan bahwa mouse itu benar-benar nyata. Otak akan menciptakan sebuah persepsi bahwa mouse itu memang riil. Tolong garis bawahi kata "menciptakan" tadi.

Sekarang mari kita renungkan bersama-sama. Apa yang terjadi apabila sensasi itu tidak pernah tercipta di otak Anda ?

Mudahnya, cukup bayangkan apabila Anda tidak bisa melihat apapun.

Anda buta.

Apakah sekarang Anda akan menganggap bahwa mouse tadi itu nyata ?

Anda mungkin akan berkata, bahwa mouse itu tetaplah nyata karena Anda bisa merasakan keberadaannya lewat telapak tangan Anda.

Sekarang bayangkan kembali, setelah Anda buta, indera peraba Anda pun tidak bekerja sama sekali.

Apakah sekarang mouse itu "ada" bagi Anda ?

Anda mungkin saja masih tetap akan berkata, kalau mouse itu tetap ada.

Alasannya karena, Anda pernah melihat bentuk sebuah mouse sebelum Anda buta dan tidak bisa merasakan sama sekali.

Yah, Anda benar. Tapi saya yakin, kalau realitas mouse yang ada dalam pikiran Anda sekarang sudah berkurang kadarnya. Yang ada dalam pikiran Anda, jika Anda buta dan tidak bisa merasakan apapun, hanyalah seonggok mouse yang memiliki definisi-definisi umum seperti fungsi umum, bentuk secara umum, dan lain-lain. Anda tidak lagi bisa mengetahui detail dan spesifikasi yang dimiliki tiap-tiap mouse.

Kalau saya persingkat, maka hanya sebatas itulah "kenyataan" sebuah mouse bagi Anda, yang sekarang ini-ceritanya-buta dan tidak bisa merasakan apa-apa. "Kenyataan" yang jelas berbeda, ketika Anda masih menggunakan mata dan tangan Anda.

Sekarang mari kita renungkan kembali suatu hal. Apa yang bakal terjadi apabila Anda itu buta dan tidak bisa merasakan apa-apa sejak lahir ? Anda tidak akan pernah tahu bentuk bentuk apapun, Anda tidak akan pernah tahu warna-warna, dan banyak lagi.

Pertanyaan saya masih sama, apakah realitas yang Anda alami akan betul- betul sama dengan yang Anda alami sekarang ini ? Apakah mouse ini akan benar-benar "ada" bagi Anda yang tidak pernah melihat dan merasakan apa-apa (secara fisik) itu ?

Kita adalah orang-orang yang dianugerahi oleh kemampuan fisik dan indera yang lengkap. Sehingga realitas yang dihasilkan oleh otak kita pun menjadi beragam dan bervariasi. Bahkan seringnya, kita cukup melihat, untuk kemudian percaya.

"What eyes see, mind will believe." - Gabriel, Swordfish.

Realitas atau kenyataan bagi kita adalah semua hal yang tertangkap oleh kelima indera kita. Realitas atau kenyataan bagi kita adalah semua hal yang tertangkap oleh mata.

"Seeing is believing" - Ancient Quote.

Mungkin benar adanya, apabila dunia ini telah kita persempit lewat mata kita. Kebanyakan Realitas bagi kita adalah realitas yang sifatnya visual.

Karena itu, betapa mudahnya kita terperdaya. Betapa mudahnya persepsi kita diperdaya. Betapa mudahnya kita tertipu oleh realitas-realitas palsu yang sama sekali tidak nyata.

Bagaimana dengan orang yang buta ? Maka realitas yang ia miliki, secara sederhana, hanyalah realitas yang sifatnya auditif. Sesuatu itu "ada" apabila berbunyi.

Bagaimana dengan orang yang buta dan tuli ? Sesuatu itu "ada" baginya apabila sesuatu itu bisa dirasakan atau memiliki bau-bauan.

"Sadarilah bahwa Kalau Anda kurangi sendiri dari sensasi yang manapun- entah itu penglihatan, suara, sentuhan, rasa, bau- maka suatu benda bukanlah apa-apa selain atom-atom yang bergetar di ruang hampa" - Deepak Chopra

Kini, setujukah Anda bahwa dunia itu TIDAK BERADA di luar, melainkan berada DI DALAM diri Anda ?

Dunia yang ada di sekeliling kita, hanyalah hasil dari jutaan sensasi yang tidak detiknya tercipta melalui semua panca indera kita, yang kemudian otak merangkainya menjadi sebuah benda, sebuah "sesuatu".

Sebuah persepsi. Sebuah dunia.

DUNIA YANG ANDA LIHAT, DENGAR, DAN RASAKAN, SEPENUHNYA MERUPAKAN HASIL KREASI OTAK ANDA. DUNIA BERADA DI DALAM PIKIRAN DAN DIRI ANDA. MEREKA TIDAK BENAR-BENAR BERADA DI LUAR SANA. TANPA KREASI DARI OTAK ANDA, MEREKA HANYALAH ATOM-ATOM YANG BERGETAR DI RUANG HAMPA.

Sangat kontroversial. Tapi saya sangat mencintainya.

Bagaimana dengan Anda ?

***

Apabila satu dari panca indera kita tidak bekerja, maka seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, nilai atau derajat realitas itu menjadi berkurang nilainya. Karena sensasi yang biasanya disampaikan oleh salah satu indera itu tidak pernah lagi ada. Karena itu "dunia" bisa saja menjadi sebuah "dunia yang pincang".

Dunia tanpa bentuk. Dunia tanpa suara. Atau dunia tanpa rasa.

"Semua itu kosong, semua itu hampa" - Tong Sam Chong, Journey To The West

Saya membayangkan, apabila kelima indera saya itu sama sekali tidak bekerja. Lantas apa yang terjadi pada saya ? Saya tidak pernah tau. Karena saya terlahir dengan kelima indera yang lengkap dan masih sehat wal afiat.

Tapi kalau saya berpikir lebih jauh. Apabila kelima indera itu memang tidak bekerja. Maka apakah dunia itu benar-benar ada bagi saya ? Apakah arti kenyataan atau realitas bagi seseorang yang sama sekali tidak memiliki seluruh panca indera untuk digunakan ?

Saya rasa, untuk hal di atas, maka kenyataan atau realitas ini akan sampai pada sebuah frase yang sering diucapkan oleh banyak kaum sufi, yakni "Realitas Tunggal" - "Singular Reality".

Semua tidak lantas sirna. Anda bakal tetap ada. Komputer di depan saya dan Anda ini tidak pergi ke mana-mana meskipun seluruh panca indera saya berhenti bekerja.

Namun perbedaannya, seperti yang ditulis oleh Chopra : "tidak ada lagi

"keterpisahan", terjadilah suatu sapuan kreatif tunggal…"

Anda dan saya berada di kutub yang berlawanan saat ini, tetapi tidak ada keterpisahan.

Anda, saya, segalanya menyatu. Berada dalam sebuah entitas tunggal nan Agung - bersama Sang Arsitek Maha Besar.

Marilah kita bersyukur dan merenungkan kembali perjalanan hidup kita.

ps 1 : Saya sendiri belum bisa memahami sepenuhnya tentang topik ini, terutama tentang ketidak-terpisahan dan realitas tunggal.

ps 2 : Saya menemukan dua tontonan yang cukup relevan dengan topik ini, mereka adalah karya Dokumenter Harun Yahya - "Realitas Penciptaan", dan film Hollywood karya Wachowski Brothers - "The Matrix".

The Way of Winning

March 7th, 2006 by warriorwithin

JALAN-JALAN KEGAGALAN ABRAHAM LINCOLN

Usia Peristiwa

22    Gagal bisnis

23    Kalan pemilihan calon legislatif

25    Gagal bisnis

26    Ditinggal mati kekasih

27    Depresi mental

34    Kalah pemilihan anggota Kongres

37    Kalah pemilihan anggota Kongres

39    Kalah pemilihan anggota Kongres

46    Kalah pemilihan Senator

47    Gagal menjadi wakil presiden USA

49    Gagal pada pemilihan Senator

52    Presiden USA

Kesengsaraan mengungkapkan kejeniusan, kemakmuran menutupinya

-Horace-

Menang bukanlah segalanya, perjuangan untuk menang adalah segalanya”

The Samurai & Humanistic Dualism

February 17th, 2006 by warriorwithin

Di bawah ini adalah dialog antara Masamune Date (Botenmaru) dan Akira yang berbicara tentang penerus utama Ieyasu Tokugawa dari Klan Tokugawa, yakni Hidetada Tokugawa. Dialog ini gua ambil dari komik Samurai Deeper Kyo yang menggabungkan antara fiksi dan sejarah Jepang saat zaman perang Sekigahara berlangsung. Of course, biar lebih jelas, ada beberapa kata dan kalimat yang gua edit-edit.

Akira : “Aneh, kenapa tombak Hokurakushimon mau meminjamkan kekuatan pada orang yang tak punya tekad, ya ?”

Botenmaru : “Kamu mau tahu khan, Akira ?”

Akira : “Eh ?”

Botenmaru : “Seperti yang kamu bilang, dia (Hidetada) adalah anak orang kaya yang manja… dia bukan lawan yang sebanding dengan pekerja keras dan petarung yang bertekad besar seperti kamu.”

Botenmaru : “Tapi, dia punya sebuah modal besar untuk menutupi kekurangan itu.”

Akira : “Modal besar yang bisa menggantikan ‘tekad’ seorang samurai ? Bagi seorang samurai, ‘tekad’ dan ‘jiwa’ adalah segalanya.”

(Kemudian seraya tersenyum, Botenmaru menanggapi pernyataan Akira)

Botenmaru : “Kalau begitu aku tanya, di mana ‘jiwa’ itu berada ?”

Akira : “Ya, tentu saja di kepala kita. Bagian paling penting dari manusia.”

(Dengan perlahan Botenmaru pun meletakkan telapak tangannya di dada Akira)

Botenmaru : “Tempat bersemayamnya jiwa manusia… di sini…”

Akira : “Hah ?”

Botenmaru : “Dan yang ada dalam diri Hidetada adalah sesuatu yang bukan hanya berharga bagi seorang samurai, tapi juga bagi seluruh manusia… Hal itu adalah ‘Nurani’.”

Akira : “Nurani ?”

Botenmaru : “Hokurakushimon meminjamkan kekuatan pada ‘Nurani’ Hidetada, sudah kubilang bahwa terkadang keinginan seseorang ini bisa menciptakan keajaiban semacam itu.”

Akira : “Menggelikan.” (seraya membalikkan tubuhnya memunggungi Botenmaru)

Botenmaru : “Oh ya ? Tapi menurutku itu benar. Tadi Saisei (samurai wanita yang sebelumnya bertarung habis-habisan melawan Akira) bisa membuatmu begitu terdesak bukan hanya karena ‘tekad’ tapi juga karena ‘nurani’-nya untuk membalas tantanganmu.”

Akira : “…”

Akira : “Peristiwa itu sudah selesai. Lagi pula itu tidak penting bagiku.”

Botenmaru : “Begitu ? Tapi Akira, aku yakin ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalam dirimu sekarang ini. Itu adalah ‘nurani’ yang tumbuh karena kau mau mendampingi Saisei di saat-saat terakhirnya.”

Akira : “…”

Botenmaru : “Hidetada adalah orang yang sangat menarik.”

Botenmaru : “Manusia adalah makhluk yang lemah kalau hanya mengandalkan akal, pikiran, dan tekad saja. Dengan itu saja hati manusia tidak akan tergerak. Masih ada sesuatu yang lebih berharga yaitu ‘Nurani’. Dan dia memilikinya.”

Botenmaru : “Ieyasu harus bersyukur memiliki anak yang hebat ini, ia bisa tumbuh lebih kuat lagi.”

We see human as a savage beast. —Sigmund Freud.

Adakah hewan yang tega memakan anaknya sendiri ? Hal ini hanya terjadi pada manusia, yang membuatnya lebih zalim daeripada hewan. —Pepatah Sunda plus beberapa tambahan dari sumber yang lain intinya sama.

Conscience is what makes human ‘human’. —Unknown.

Selanjutnya, ini adalah apa yang dihasilkan oleh pikiran gua.

Ketika kesempurnaan diartikan sebagai keseimbangan total yang melibatkan seluruh elemen gelap dan terang secara sekaligus, maka itulah yang terjadi pada manusia.

Kenapa Tuhan menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna ?

Kesempurnaan’ yang dialamatkan pada manusia bukanlah sesuatu yang menyiratkan kebaikan dan keindahan di setiap hal.

‘Kesempurnaan’ ini adalah terdapatnya kebaikan dengan kejahatan, mengapungnya keindahan dengan keburukan, berdirinya akal sehat dengan hawa nafsu, dan bertarungnya nurani jiwa dengan hasrat keinginan.

‘Kesempurnaan’ adalah ‘Keseimbangan’, adalah kekuatan yang mampu menjaga ‘Keseimbangan’ agar tetap pada porsinya.

Gelap dan Terang. Siang dan Malam. Laki-laki dan Perempuan. Malaikat dan Iblis. Surga dan Neraka. Materi dan Antimateri.

Ke-Ada-an dan Ke-Tiada-an.

Manusia adalah makhluk dengan ‘keseimbangan’ dualisme yang ‘sempurna’.

Manusia bisa menjadi malaikat dengan secuil cercahan cahaya surgawi.

Atau menjelma menjadi iblis bengis beraroma darah dan beraurakan api neraka.

Manusia senantiasa berada ditengah-tengahnya.

Dan sesekali mengunjungi kedua sisi itu dengan jembatan yang bernama ‘Pilihan’.

Yes, that’s why everybody’s perfect.

Fatum

February 17th, 2006 by warriorwithin

Film Serendipity. Drama romantis ini baru menimbulkan efek kognisi yang lumayan hebat sama pikiran gua, ketika gua menonton untuk yang ketiga kalinya. Dan dialog sahabat si Jonathan Traggart-lah yang membuat semua ini terjadi. Gua cuma bisa nangkep intinya, sisanya gua tambahin sendiri. Semoga ngga terlalu melenceng. Dialog-dialog inilah yang bagi gua sangat mengesankan.

“When God closes the door, He opens the window.”

Rupanya memang tidak ada yang disebut dengan ‘kebetulan’. Semua peristiwa dan kejadian yang terjadi pada setiap manusia, segala hal yang membuat manusia dengan manusia lain menjadi terhubung satu sama lain sekecil apapun, merupakan rajutan dari aliran ‘waktu’ dan ‘masa’ yang memuncak pada suatu ‘Rencana Yang Luhur’. Ketika manusia bergerak secara harmonis dengan tarian alam semesta, selaras dengan ‘Yang Tengah Mengalir’, serta memiliki ‘keyakinan’ yang tidak tersentuh oleh realitas-realitas kebendaan, saat itulah terjadi apa yang biasa orang-orang kuno zaman dahulu menyebutnya dengan sebutan ‘fatum.

Ada yang menyebutnya dengan ‘fate’.

Ada yang menamakannya dengan ‘destiny’.

Kita di Indonesia mengistilahkannya dengan sebutan…

‘Takdir’

Conspiracy Within A Theory

June 10th, 2005 by warriorwithin

Ada yang bilang, bahwa Lady Di, sebetulnya masih hidup. Dan bahwa musibah mobil yang mengerikan di terowongan Alma di Paris adalah sebuah tipu-tipu yang membuat orang banyak yakin, bahwa Ratu Diana dan Dodi Fayed telah tewas, sehingga, karena orang yakin itu, keduanya bisa menikmati sisa hidup mereka, terkucil dari dunia ramai.

Coba saja, kata teori tersebut, tengok apakah anda pernah dengan mata kepala sendiri melihat jenazah Lady Di? Itulah sebabnya peti mayatnya langsung ditutup pada hari pemakamannya.

Tidak sepakat dengan teori konspirasi ini? Nggak apa-apa, masih ada teori-teori lainnya yang bisa anda pilih sendiri.

Sekitar 36 ribu websites telah dimasukkan ke internet setelah Pangeran Putri Wales ini dinyatakan tewas enam tahun yang lalu - angka yang luar biasa. Banyak dari website itu masih ada sampai kini.

Hipotesa mereka bervariasi, dari yang berbau James Bond, seperti dinas rahasia MI6 Inggris tengah berjuang mempertahankan monarki, sampai yang bernada lelucon ‘itu pembunuhan yang direncanakan oleh para penjual bunga dunia, agar dagangan mereka laku’.

Sekarang ada lagi teori terbaru. Paul Burrell, mantan kacung istana Lady Di, mengaku dalam sebuah buku baru, bahwa Pangeran Putri Diana telah meramalkan kematiannya dalam sebuah kecelakaan mobil.

Tampaknya, dia sebegitu ketakutan dengan "kekuatan-kekuatan gelap" yang mengitari Istana, sehingga sepuluh bulan sebelum kematiannya dia menulis surat yang menggetarkan hati kepada Burrell, meminta agar Burrel menyimpannya sebagai sebuah ‘polis asuransi’.

Rem mobilnya bisa diutak-atik orang, kata Putri Diana. Dia akan mengalami cedera kepala. Sebuah rencana tengah digodog oleh seseorang, yang disebutkan oleh Diana, tetapi yang jatidirinya menurut surat kabar Daily Mirror, yang menerbitkan buku baru ini secara seri, pantas untuk dirahasiakan. Dengan begitu, Pangeran Wales, atau Charles bisa menikah lagi.

Sekarang para wartawan juga sedang sibuk menyusun teori mengapa surat itu dengan tiba-tiba dimunculkan. Itu memang sebuah cerita besar, tetapi tidak anehlah kalau cerita besar itu baru ‘naik’ pada saat Burrel tengah menerbitkan sebuah buku yang secara potensial sangat menguntungkan.

Kalau lah dia percaya bahwa cerita ini memang sangat besar artinya, tidakkah seharusnya dia sudah mengungkapkannya kepada polisi yang menyelidiki tabrakan itu bertahun-tahun lalu?
    
Percaya nggak percaya, orang memang ramai memperbincangkan dongeng Paul Burrell ini. Nafsu orang untuk mendapatkan teori-teori konspirasi ternyata tetap tinggi - setinggi ketika teori-teori tentang kematian Elvis Presley dan serangan Sebelas September mulai merebak.

JF Kennedy konon menjadi korban persekongkolan CIA. Pendaratan Amerika di bulan konon dipalsukan. Serangan Sebelas September konon merupakan hasil persekongkolan Yahudi untuk memutar balik opini dunia agar melawan musuh Yahudi - yakni kaum Muslim.

Teori lainnya: Lady Di sudah mengandung pada waktu meninggal, dan Istana Buckingham tidak bisa menerima pemikiran orang bahwa dia harus menikah dengan seorang Arab.

Manakala kejadian-kejadian bersejarah yang mengerikan mengguncang jagad kita, kita berupaya untuk menemukan nalar di belakangnya dengan mencoba menemukan teori bayangan, yang seberapa pun buruknya, lebih disukai daripada fakta-fakta yang dingin, yang terkadang memang berdasar pada kenyataan bahwa musibah bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.

Kita merasa lebih enak mencerna teori bayangan daripada percaya bahwa seorang Pangeran Putri dengan kekayaan yang melimpah dan penjagaan bodyguards yang begitu ketat tetap bisa saja direnggut maut melalui sebuah kecelakaan lalu-lintas.

Secara psikologis kita membutuhkan teori-teori untuk lebih mampu memikul tragedi-tragedi hidup. Dan internet ikut menyuapi kegilaan dunia akan teori-teori itu.

Doktor Patrick Leman dari Royal Holloway University di London, telah melakukan riset psikologi tentang teori-teori semacam itu. "Kalau ada peristiwa besar terjadi, kita lebih suka mencari sebab-musabab yang besar juga," katanya. "Kalau tidak ada penjelasan yang kuat dan besar, dunia akan terasa tidak genap".

Awal tahun ini dia menyuruh 64 sukarelawan memilih salah satu dari empat skenario mengenai seorang presiden dari sebuah negara antah berantah - yang ceritanya telah ditembak mati seorang pembunuh atau selamat dari sebuah serangan.

Hasilnya menunjukkan, bahwa kalau ada sebuah peristiwa besar terjadi, seperti matinya seorang presiden, orang cenderung mencari ‘penjelasan yang berskala besar’, yang sangat mungkin menyangkut teori konspirasi.

Mereka lebih condong percaya pada teori persekongkolan untuk membunuh, daripada umpamanya, ‘tindakan seseorang bersenjata yang tidak waras’. Patrick Leman mengatakan, "kalau hanya karena ulah seorang laki-laki tak waras, rasanya kurang mantab-lah".

Para sukarelawan itu diminta untuk memberi nilai sampai 150 untuk mengukur kepercayaan mereka terhadap teori bahwa Presiden Kennedy dan Ratu Diana adalah korban dari komplotan pembunuh, bahwa virus HIV-AIDS diciptakan di laboratorium, bahwa Uni Eropa sebenarnya ingin mencaplok Inggris Raya dan bahwa pemerintah Inggris menyembunyikan kenyataan bahwa ‘makhluk-makhluk planet lain telah berada di Inggris’ serta meredam informasi tentang adanya zat-zat beracun di makanan.

Skenario Kennedy kembali dengan nilai rata-rata 86, Uni Eropa ingin caplok Inggris dengan 60, teori Diana dibunuh 57, cerita orang planet di Inggris 49 dan virus AIDS dibuat di laboratorium 38, sedang kandungan racun di makanan 95.

Leman menyebut contoh lain. Orang lebih percaya kepada teori bahwa darah sopir Lady Di, Henri Paul, sudah diganti dengan darah orang lain, daripada hasil tes kedokteran yang menunjukkan bahwa sopir itu dalam keadaan mabuk ketika menyetir mobil naas itu.

Source : http://www.bbc.co.uk/indonesian/surat/031027_ladydi.shtmlTe

Teori Konspirasi emang luar biasa. Terlepas dari bener atau engganya, ngga ada masalah. Kita cuma dituntut untuk lebih kritis dalam melihat setiap fenomena yang ada.
Teori-teori buatan manusia inilah, yang sesungguhnya membuat setiap kejadian selalu menarik untuk dibicarakan.

Ngga pernah ada kebenaran yang sesungguhnya di dunia ini. Kebenaran cuma milik Tuhan, karena itulah mengapa kebenaran menjadi sebuah pencarian abadi bagi setiap manusia.
Abadi ? Tapi apakah umur manusia itu sendiri adalah Abadi ? Jadi seperti apa ending dari setiap pencarian manusia ? Once again, only God Knows.

Mystery is always sweet and interesting.

The Pararell World ?

June 4th, 2005 by warriorwithin

Waktu itu gua sempet nonton Butterfly Effects with ma’ Bros. What can i say ? This movie is so f**kin’ awesome. The idea is a masterpiece. Physicologically Insane, i’d like to say. Jadi si Asthon Kutcher ini kaya punya kemampuan buat kembali ke masa lalu ketika dia baca jurnal yang selalu dia tulis sejak berumur 7 tahun. Dia bisa kembali ke masa lalu dia yang mana aja, dengan tujuan buat ngerubahnya jadi lebih baik. Heh, but instead of fixing what went wrong to the right thing, beriringan dengan perbuatannya itu, dia sesungguhnya ngerubah jalan hidup dirinya sendiri dan orang lain, terutama orang-orang terdekatnya. Kaya temen cewenya, Kayleigh yang diperankan oleh Amy Smart. Ketika si Ashton made a small flick to change the past, cewe ini, di masa depan, bisa berakhir bunuh diri, jadi pelacur, jadi cewenya si Ashton, atau justru malah mati di usia kecilnya. Semua ini juga berlaku untuk 2 temennya yang lain, si Tommy dan Lenny, dengan akhir yang berbeda2 pula.

Gua nonton film ini, jadi inget buku-buku berjenis “Pilih Sendiri Sendiri Jalan dan Petualanganmu !”. Buku-buku yang ngelarang pembacanya untuk membaca halaman demi halaman. Buku-buku yang membuat pembacanya harus direpotkan dengan membulak-balikan halaman demi ngedapetin terusan ceritanya, yang didesain sedemikian rupa agar menarik dan memiliki banyak ending. Ya, film ini, kurang lebih kaya gitu.

Film ini mendadak jadi relevan dengan prolognya.

It has been said that something as small as the flutter of a butterfly’s wing can ultimately cause a typhoon halway around the world.–Chaos Theory.

Ngerubah masa lalu, walau sekecil kepakan sayap kupu-kupu sekalipun bisa berimbas sedashyat angin topan yang mampu menyerbu sebagian belahan dunia. Ini menunjukkan bahwa perjalanan lintas ruang dan waktu adalah suatu hal yang sangat-sangat berbahaya. Penciptaan mesin waktu—kaya di film-film—adalah dosa yang tak termaafkan. Are humans trying to play as God ? That’s insane. Tapi semuanya ya, relatif. Siapa tau di masa depan yang namanya perjalanan antar ruang dan waktu itu bener-bener bisa terjadi. Siapa tau—kaya di film-film lagi—kalaupun mesin waktu ngga bisa diciptain, tapi ada crack di lubang waktu yang membuat dunia sekarang, jadi terhubung dengan dunia pararel. Emang bener-bener ada gitu, dunia pararel ?

Menurut gua dunia pararel adalah, sebuah dunia yang tercipta lewat manifestasi dalam bentuk ruang dan waktu yang lain, karena efek kedua atau ketiga yang muncul setelah satu pilihan diambil oleh manusia.

Inget ya, dalam setiap pilihannya manusia cuma bisa ngambil satu, ngga bisa dua atau lebih. Selalu antara A dan B. Atau kalau mau ambil A dan B dua-duanya, maka sesungguhnya kita menciptakan pilihan baru yaitu pilihan C.

A + B ≠ AB, tapi A + B = C.

Kalaupun kita ngga mau milih antara A dan B, maka sesimple-simplenya yaitu seperti ini, A – B ≠ 0, atau A – B ≠ C, tapi A – B = D. Hey, another choice.

Itu membuktikan bahwa biarpun manusia punya berjuta-juta pilihan dalam satu waktu, maka pada hakikatnya, ketika dia memilih, dia hanya memilih satu dari jutaan pilihan itu. Meski pilihannya ini merupakan hasil dari akumulasi pilihan-pilihan yang lain. Pokoknya tetep satu.

Jadi, pararell world yang gua maksud adalah dunia  yang berisikan orang-orang yang mengambil pilihan yang berbeda dengan apa yang telah ia pilih di dunia ini. Contoh, kalau sekarang kita tau ada seorang Alfa Haga yang berstatus mahasiswa Fikom Unpad, maka kalau dunia pararell itu benar-benar ada, berarti ada Alfa Haga yang ‘lain’ yang berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jerman. Is it possible ?

Believe it or not, itu cuma buatan gua yang lagi iseng. Just send me your comment, if necessary.